Selasa, 29 Desember 2015

Konflik Diskriminasi Agama

                                                              (Tema : Prasangka, Diskriminasi, dan Ethosentrisme)

Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, suku, bahasa dan agama. Hidup bersama dengan beragam perbedaan tentunya diperlukan integritas, solidaritas dan sikap saling menghargai banyaknya perbedaan itu sendiri. Karena tanpa itu semua tentunya akan mengakibatkan konflik berkepanjangan. Salah satu konflik yang sangat disayangkan dan memakan banyak korban adalah konflik agama.

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak agama. Meskipun memiliki keberagaman agama dengan segala aturannya diharapkan tidak memecah belah kehidupan bermasyarakat. Biasanya pertentangan agama itu timbul ketika mencampurkan urusan agama dengan hubungan sosial, sikap diskriminatif terhadap yang berbeda agama, atau mencecar historical agama lain dengan pertanyaan kenapa ?? atau kok bisa ??.Hal tersebut bukan lah sesuatu yang pantas di perdebatkan. Karena semua agama memiliki keyakinan dan filosofi masing masing yang tidak perlu di pertanyakan. Diskriminasi akan mengakibatkan keengganan dan sifat sensitif terhadap kelompok yang memiliki perbedaan dengan kelompoknya, dampak berkepanjangannya jelas cekcok dan berujung pertikaian antar kelompok .

Prasangka menunjukkan pada aspek sikap sedangkan diskriminasi pada tindakan. Menurut Morgan (1966) sikap adalah kecenderungan untuk merespon baik secara positif atau negatif terhadap orang, obyek atau situasi. Sikap seseorang baru diketahui setelah ia bertindak atau bertingkah laku. Oleh karena itu bisa saja bahwa sikap bertentangan dengan tingkah laku atau tindakan. Jadi prasangka merupakan kecenderungan yang tidak nampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan, aksi yang sifatnya realistis. Dengan demikian diskriminatif merupakan tindakan yang realistis, sedangkan prasangka tidak realistis dan hanya diketahui oleh diri individu masing-masing.


Sebab-sebab timbulnya prasangka dan diskriminasi :
1.    berlatar belakang sejarah
2.    dilatar-belakangi  oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional
3.    bersumber dari factor kepribadian
4.    berlatar belakang perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama

Meski Indonesia telah 68 tahun merdeka dan era reformasi telah terlewati tetapi tetap saja masih ada kasus-kasus diskriminasi terjadi. Diskirminasi atau kekerasan yang terjadi dilatarbelakangi oleh beberapa hal seperti agama, suku atau ras, gender, tingkat sosial dalam masyarakat, dan lain-lain.

Dari banyaknya kasus diskriminasi yang terjadi, disikriminasi yang paling sering terjadi yaitu dengan latar belakang agama seperti kasus diskriminasi di Ambon, Maluku. Konflik Maluku menjadi kasus diskriminasi yang berlatar belakang agama dengan korban meninggal 8.000 sampai 9000 orang. 29.00 rumah, 45 masjid, 47 gereja, 719 toko, 38 gedung kebakaran. Kasus ini berlangsung selama 4 tahun berturut-turut.

Contoh membuncahnya konflik agama di indonesia, pertikaian agama di Maluku, kasus antar Syiah-Sunni di Sampang yang bermula dari persoalan keluarga, masalah izin tempat beribadah di GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia, hingga persoalan sweeping yang dilakukan sejumlah organisasi massa. Kerugian yang ditimbulkan pertikaian ini pun tidak sedikit, baik secara materiil , spiritual dan bahkan korban jiwa.

Dari konflik dan permasalahan yang telah terjadi seharusnya masyarakat sadar dan dapat mengambil pelajaran bahwa sikap diskriminasi akan mengakibatkan pertikaian yang membawa sengsara untuk banyak pihak. Sikap saling menghormati dan toleransi sangat penting untuk menghindari bencana.

Membangun Kewirausahaan Melalui Internet

                                                (Tema: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Kemiskinan)

Sejak dimulainya Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) pada 2 Februari 2011 yang lalu oleh Menteri Koperasi dan UKM, Sjarifuddin Hasan, sampai saat ini belum menunjukkan peningkatan apalagi masuk dalam  kategori lumayan. Upaya yang dilakukan untuk membuka denyut  wirausaha ditengah kompetisi dan persaingan ekonomi global tersebut, harus lebih dari itu.
Jumlah wirausaha di Tanah Air hanya mencapai  0,24 persen dari total populasi penduduk. Tentunya  belum mampu mengurangi pengangguran. Padahal  untuk dapat dikatakan sebagai negara maju diperlukan setidaknya 2 persen jumlah wirausaha dari seluruh jumlah penduduk. Bandingkan dengan rasio wirausaha sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat mencapai 12% dan Jepang sekitar 10%.
Tidak bisa dimungkiri pertumbuhan sektor wirausaha di Indonesia memang masih relatif  rendah, padahal sektor tersebut salah satu kunci untuk menggenjot pendapatan masyarakat sebesar USD3.000 per kapita hingga 2014. Usaha atau industri kreatif yang telah dikembangkan oleh masyarakat belakangan ini, memang sudah mulai merayap.
Namun sayangnya hal tersebut belum bisa dipasarkan secara maksimal, hanya sebatas iklan dari mulut kemulut. Jasa iklan seperti media cetak maupun elektronik yang tidak murah, menjadi alasan mengapa cara tradisional diatas masih saja relevan. Padahal strategi pemasaran(promosi) yang mantap, akan mendukung pertumbuhan industri kreatif yang berlabelkan wirausaha.
Potensi Internet
Internet. Ya, salah satu media sekaligus solusi dalam pemasaran  industri kreatif masyarakat era digital saat ini. Internet memang memiliki potensi yang dahyat, bukan hanya sekadar sebagi  infrastruktur media, bersosialisasi, berkolaborasi namun  pemanfaatan internet sebagai media secara ekonomi untuk mengembangkan usaha yang produktif pun menjadi pilihan tepat.
Bahkan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa belakangan ini dengan massif mendorong  penggunaan internet dengan bijak, khususnya di bidang perekonomian. Hatta juga mengingatkan kepada generasi muda Indonesia untuk membangun industri kreatif dengan memanfaatkan kemajuan fasilitas internet  sehingga mampu  memberdayakan masyarakat. Memang jika melihat perkembangan Internet di Indonesia, selalu tumbuh seiring dengan meleknya masyarakat terhadap Informasi dan Tekhnologi (IT).
Selain itu tercermin dari hasil riset BBC News yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan tempat terbaik pilihan responden untuk memulai bisnis, ini tentunya menjadi  stimulus bagi entrepreneur di Indonesia. Seperti diketahui, BBC melansir hasil penelitiannya terhadap 24.000 responden dari 24 negara.
Survei yang dilakukan Globescan bersama program International Policy Attitudes di University of Maryland menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya paling menghargai inovasi dan kreativitas untuk mendukung pengembangan bisnis, lebih tinggi ketimbang AS.
Namun sayangnya  pemanfaatan internet  dalam kehidupan sehari-hari, Tujuh Puluh Persen  cenderung  mengarah pada entertainment. Masyarakat pada umumnya masih berpandangan bahwa internet hanyalah sebagai media pelengkap  dalam menunjang komunikasi, hiburan  dan pengetahuan. Apalagi  masyarakat yang tinggal di pedesaan.
Internet sebagai alat komunikasi global telah membantu kita untuk menjelajah dunia dengan lebih mudah dan murah, apalagi pengguna internet di negeri ini terus mengalami peningkatan tajam dari tahun ketahun, termasuk penggunaan blog dan jejaring sosial. Ini adalah strategi nyata dalam membangun dan mendorong kewirausahaan dalam negeri. Dan strategi dalam menyebarkan virus informasi wirausaha. Namun tak lupa pula, pemerintah sebagai fasilitator  tidak putus arang dalam mengembangkan infrstruktur internet sehingga dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, tanpa tebang pilih kawasan.
Jiwa Wirausaha
Menjadi manusia insan kreatif bukanlah perkara mudah, namun lebih sulit jka tidak dicoba terlebih dahulu. Begitupun peluang wirausaha, kebanyakan masyarakat  kita enggan untuk melakukannya karena terbebani dengan kegagalan yang membayangi usaha yang kelak dirintis. Rasa takut yang berlebihan untuk memulai, perlu disadari bahwa antara kegagalan dan keberhasilan adalah satu paket, tidak bisa dipisahkan sama sekali.
Untuk itu diperlukan jiwa wirausaha sebagai energi dalam memacu semangat berwirausaha selain media pemasaran yang tepat, sesuai dengan pemaparan diatas. Pertama, Percaya diri, paduan dari  sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi tugas atau pekerjaan. Kepercayaan diri akan mempengaruhi gagasan, karsa, inisiatif, kreativitas, keberanian, ketekunan, semangat kerja, kegairahan berkarya. Kedua, Memiliki Motif Berprestasi, hal ini mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada  ketekunan dan kerja keras.
Ketiga, Berani Mengambil Resiko, sikap ini memiliki kekuatan yang luar biasa untuk terus memacu semangat dalam mencapai target dalam berwirausaha. Keempat, Jiwa Kepemimpinan, seorang wirausaha harus memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan, keteladanan, berani menampilakan kreatifitas baru yang penuh dengan ketelitian dan perhitungan.

Kelima, Inovasi, seorang entrepreneur penting dalam melahirkan karya baru penuh dengan warna yang berbeda namun tetap memiliki nilai dan bermanfaat dalam kehidupan. Tidak pernah puas dengan cara-cara yang dilakukan saat ini, meskipun cara tersebut cukup baik,  dan  selalu menuangkan imajinasi dalam pekerjaannya.