Selasa, 29 Desember 2015

Konflik Diskriminasi Agama

                                                              (Tema : Prasangka, Diskriminasi, dan Ethosentrisme)

Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, suku, bahasa dan agama. Hidup bersama dengan beragam perbedaan tentunya diperlukan integritas, solidaritas dan sikap saling menghargai banyaknya perbedaan itu sendiri. Karena tanpa itu semua tentunya akan mengakibatkan konflik berkepanjangan. Salah satu konflik yang sangat disayangkan dan memakan banyak korban adalah konflik agama.

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak agama. Meskipun memiliki keberagaman agama dengan segala aturannya diharapkan tidak memecah belah kehidupan bermasyarakat. Biasanya pertentangan agama itu timbul ketika mencampurkan urusan agama dengan hubungan sosial, sikap diskriminatif terhadap yang berbeda agama, atau mencecar historical agama lain dengan pertanyaan kenapa ?? atau kok bisa ??.Hal tersebut bukan lah sesuatu yang pantas di perdebatkan. Karena semua agama memiliki keyakinan dan filosofi masing masing yang tidak perlu di pertanyakan. Diskriminasi akan mengakibatkan keengganan dan sifat sensitif terhadap kelompok yang memiliki perbedaan dengan kelompoknya, dampak berkepanjangannya jelas cekcok dan berujung pertikaian antar kelompok .

Prasangka menunjukkan pada aspek sikap sedangkan diskriminasi pada tindakan. Menurut Morgan (1966) sikap adalah kecenderungan untuk merespon baik secara positif atau negatif terhadap orang, obyek atau situasi. Sikap seseorang baru diketahui setelah ia bertindak atau bertingkah laku. Oleh karena itu bisa saja bahwa sikap bertentangan dengan tingkah laku atau tindakan. Jadi prasangka merupakan kecenderungan yang tidak nampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan, aksi yang sifatnya realistis. Dengan demikian diskriminatif merupakan tindakan yang realistis, sedangkan prasangka tidak realistis dan hanya diketahui oleh diri individu masing-masing.


Sebab-sebab timbulnya prasangka dan diskriminasi :
1.    berlatar belakang sejarah
2.    dilatar-belakangi  oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional
3.    bersumber dari factor kepribadian
4.    berlatar belakang perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama

Meski Indonesia telah 68 tahun merdeka dan era reformasi telah terlewati tetapi tetap saja masih ada kasus-kasus diskriminasi terjadi. Diskirminasi atau kekerasan yang terjadi dilatarbelakangi oleh beberapa hal seperti agama, suku atau ras, gender, tingkat sosial dalam masyarakat, dan lain-lain.

Dari banyaknya kasus diskriminasi yang terjadi, disikriminasi yang paling sering terjadi yaitu dengan latar belakang agama seperti kasus diskriminasi di Ambon, Maluku. Konflik Maluku menjadi kasus diskriminasi yang berlatar belakang agama dengan korban meninggal 8.000 sampai 9000 orang. 29.00 rumah, 45 masjid, 47 gereja, 719 toko, 38 gedung kebakaran. Kasus ini berlangsung selama 4 tahun berturut-turut.

Contoh membuncahnya konflik agama di indonesia, pertikaian agama di Maluku, kasus antar Syiah-Sunni di Sampang yang bermula dari persoalan keluarga, masalah izin tempat beribadah di GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia, hingga persoalan sweeping yang dilakukan sejumlah organisasi massa. Kerugian yang ditimbulkan pertikaian ini pun tidak sedikit, baik secara materiil , spiritual dan bahkan korban jiwa.

Dari konflik dan permasalahan yang telah terjadi seharusnya masyarakat sadar dan dapat mengambil pelajaran bahwa sikap diskriminasi akan mengakibatkan pertikaian yang membawa sengsara untuk banyak pihak. Sikap saling menghormati dan toleransi sangat penting untuk menghindari bencana.

Membangun Kewirausahaan Melalui Internet

                                                (Tema: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Kemiskinan)

Sejak dimulainya Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) pada 2 Februari 2011 yang lalu oleh Menteri Koperasi dan UKM, Sjarifuddin Hasan, sampai saat ini belum menunjukkan peningkatan apalagi masuk dalam  kategori lumayan. Upaya yang dilakukan untuk membuka denyut  wirausaha ditengah kompetisi dan persaingan ekonomi global tersebut, harus lebih dari itu.
Jumlah wirausaha di Tanah Air hanya mencapai  0,24 persen dari total populasi penduduk. Tentunya  belum mampu mengurangi pengangguran. Padahal  untuk dapat dikatakan sebagai negara maju diperlukan setidaknya 2 persen jumlah wirausaha dari seluruh jumlah penduduk. Bandingkan dengan rasio wirausaha sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat mencapai 12% dan Jepang sekitar 10%.
Tidak bisa dimungkiri pertumbuhan sektor wirausaha di Indonesia memang masih relatif  rendah, padahal sektor tersebut salah satu kunci untuk menggenjot pendapatan masyarakat sebesar USD3.000 per kapita hingga 2014. Usaha atau industri kreatif yang telah dikembangkan oleh masyarakat belakangan ini, memang sudah mulai merayap.
Namun sayangnya hal tersebut belum bisa dipasarkan secara maksimal, hanya sebatas iklan dari mulut kemulut. Jasa iklan seperti media cetak maupun elektronik yang tidak murah, menjadi alasan mengapa cara tradisional diatas masih saja relevan. Padahal strategi pemasaran(promosi) yang mantap, akan mendukung pertumbuhan industri kreatif yang berlabelkan wirausaha.
Potensi Internet
Internet. Ya, salah satu media sekaligus solusi dalam pemasaran  industri kreatif masyarakat era digital saat ini. Internet memang memiliki potensi yang dahyat, bukan hanya sekadar sebagi  infrastruktur media, bersosialisasi, berkolaborasi namun  pemanfaatan internet sebagai media secara ekonomi untuk mengembangkan usaha yang produktif pun menjadi pilihan tepat.
Bahkan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa belakangan ini dengan massif mendorong  penggunaan internet dengan bijak, khususnya di bidang perekonomian. Hatta juga mengingatkan kepada generasi muda Indonesia untuk membangun industri kreatif dengan memanfaatkan kemajuan fasilitas internet  sehingga mampu  memberdayakan masyarakat. Memang jika melihat perkembangan Internet di Indonesia, selalu tumbuh seiring dengan meleknya masyarakat terhadap Informasi dan Tekhnologi (IT).
Selain itu tercermin dari hasil riset BBC News yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan tempat terbaik pilihan responden untuk memulai bisnis, ini tentunya menjadi  stimulus bagi entrepreneur di Indonesia. Seperti diketahui, BBC melansir hasil penelitiannya terhadap 24.000 responden dari 24 negara.
Survei yang dilakukan Globescan bersama program International Policy Attitudes di University of Maryland menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya paling menghargai inovasi dan kreativitas untuk mendukung pengembangan bisnis, lebih tinggi ketimbang AS.
Namun sayangnya  pemanfaatan internet  dalam kehidupan sehari-hari, Tujuh Puluh Persen  cenderung  mengarah pada entertainment. Masyarakat pada umumnya masih berpandangan bahwa internet hanyalah sebagai media pelengkap  dalam menunjang komunikasi, hiburan  dan pengetahuan. Apalagi  masyarakat yang tinggal di pedesaan.
Internet sebagai alat komunikasi global telah membantu kita untuk menjelajah dunia dengan lebih mudah dan murah, apalagi pengguna internet di negeri ini terus mengalami peningkatan tajam dari tahun ketahun, termasuk penggunaan blog dan jejaring sosial. Ini adalah strategi nyata dalam membangun dan mendorong kewirausahaan dalam negeri. Dan strategi dalam menyebarkan virus informasi wirausaha. Namun tak lupa pula, pemerintah sebagai fasilitator  tidak putus arang dalam mengembangkan infrstruktur internet sehingga dijangkau oleh semua lapisan masyarakat, tanpa tebang pilih kawasan.
Jiwa Wirausaha
Menjadi manusia insan kreatif bukanlah perkara mudah, namun lebih sulit jka tidak dicoba terlebih dahulu. Begitupun peluang wirausaha, kebanyakan masyarakat  kita enggan untuk melakukannya karena terbebani dengan kegagalan yang membayangi usaha yang kelak dirintis. Rasa takut yang berlebihan untuk memulai, perlu disadari bahwa antara kegagalan dan keberhasilan adalah satu paket, tidak bisa dipisahkan sama sekali.
Untuk itu diperlukan jiwa wirausaha sebagai energi dalam memacu semangat berwirausaha selain media pemasaran yang tepat, sesuai dengan pemaparan diatas. Pertama, Percaya diri, paduan dari  sikap dan keyakinan seseorang dalam menghadapi tugas atau pekerjaan. Kepercayaan diri akan mempengaruhi gagasan, karsa, inisiatif, kreativitas, keberanian, ketekunan, semangat kerja, kegairahan berkarya. Kedua, Memiliki Motif Berprestasi, hal ini mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi pada  ketekunan dan kerja keras.
Ketiga, Berani Mengambil Resiko, sikap ini memiliki kekuatan yang luar biasa untuk terus memacu semangat dalam mencapai target dalam berwirausaha. Keempat, Jiwa Kepemimpinan, seorang wirausaha harus memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan, keteladanan, berani menampilakan kreatifitas baru yang penuh dengan ketelitian dan perhitungan.

Kelima, Inovasi, seorang entrepreneur penting dalam melahirkan karya baru penuh dengan warna yang berbeda namun tetap memiliki nilai dan bermanfaat dalam kehidupan. Tidak pernah puas dengan cara-cara yang dilakukan saat ini, meskipun cara tersebut cukup baik,  dan  selalu menuangkan imajinasi dalam pekerjaannya.

Anak GAUL dan Anak CUPU

                             (Tema: Masyarakat Perkotaan dan Masyarakat Pedesaan)

Seiring dengan berjalannya waktu, di jaman abad-21 ini banyak perubahan di segala bidang, dari teknologi, informasi dan bahkan budaya yang mulai berkembang.
Semua itu dipengaruhi oleh berbagai macam hal dan sebab, semakin banyaknya orang pintar dan semakin canggihnya teknologi yang mereka buat dan semakin berbeda pula cara berpikir dan budaya mereka, karena mereka menganggap hal yang kemarin itu adalah hal yang sudah lalu atau bisa dibilang kuno.
Jadi mereka menganggap hal yang sekarang ini adalah hal yang harus mereka ikuti walau kadang mereka tidak mengerti dengan apa yang mereka lakukan atau mereka ikuti sekarang ini, mereka hanya berpikir dan menganggap diri merekalah yang paling depan dan tidak ketinggalan jaman.
Dan mereka menganggap dirinya sebagai anak gaul dan menganggap yang mengikuti hal dulu yaitu anak cupu. Padahal mereka tidak mengerti apa arti dan anak gaul dan anak cupu itu.
Pembahasan kali ini mengenai perbedaan antara anak gaul dan anak cupu. Kalian pasti tahu dan pasti melihat atau pun mengalami hal yang semacam ini, dimana kalian menganggap diri kalian itu yang paling keren atau yang paling cantik/cakep. Tapi kalian  tidak pernah merasakan kalau kalian itu mungkin dianggap sebagian orang akan kalian itu cupu. Sebagian orang menganggap orang yang gaul adalah orang yang hidup di kota besar dan mereka yang cupu tinggal di pedesaan yang menurut mereka kumuh dan ketinggalan jaman.
Bukan hanya teman anda mungkin dari keluarga akan menyebut anda seperti itu jika anda merasakan 2 hal yang tadi.
ANAK GAUL
Pastilah kalian tahu apa itu ‘gaul’ sebuah kata yang mempunyai berbagai macam arti. Disini saya anggap gaul itu sebagai hal yang terdepan. Kenapa saya anggap hal yang terdepan karena mereka selalu berpikir hari ini dan esok dengan mengembangkan inovasi dan kreatifitas sebagai kunci mereka agar bisa dianggap gaul. Tapi kadang mereka mengasalah artikan gaul itu sebagai apa, kadang mereka hanya ikut atau mengikuti agar mereka dianggap sebagai anak yang gaul anak yang tidak ketinggalan jaman. Tapi mereka tidak mengedepankan inovasi dan kreatifitasan mereka untuk mengembangkan sesuatu untuk menjadi anak yang gaul, terkadang mereka hanya mengikuti satu hal yang mereka anggap gaul dan tidak berpikir kedepan.  Tapi itu adalah hal yang salah besar karena gaul itu bukan bermaksud seperti itu, bukan hanya untuk ajang memamerkan diri dengan apa yang mereka miliki sekarang ini dengan apa yang mereka kenakan sekarang ini dan dengan seberapa canggih gadget yang mereka miliki. Terkadang kita dan saya pun juga mengalami hal seperti itu, itu adalah hal yang wajar bagi orang yang bisa mengendalikan tapi bisa menjadi penyakit jika mereka merasa ketagihan dengan penyalah gunaan kata gaul bagi penderita akut kegaulan.
Kegaulan seseorang sekarang ini ditandai dengan cara mereka memakai atau mengikuti trend masa kini, dari semua segi dari fashion, teknologi bahkan sampai budaya sekaligus mereka ikuti agar bisa menyandang gelar kegaulan tersebut. Dari fashion pasti mereka lebih memilih hal kekinian atau menjurus budaya barat yang lebih menonjolkan atau memamerkan apa yang mereka punya, lebih memilih untuk membuka diri atau lebih tepatnya mengumbar aurat karena menurut mereka dengan membuka apa yang mereka punya maka akan memikat lawan jenis dari mereka. Pastilah kawan-kawan mengalami hal tersebut, karena itu hal yang wajar dijaman yang modern ini.
Dari teknologi seorang yang mengatakan dia anak gaul pasti akan memilih atau pun membeli gadget dengan kemampuan yang sempurna atau dengan model kemewahan, padahal mereka tidak mengerti teknologi apa yang mereka pakai saat ini, yang mereka pikirkan hanyalah mengikuti saja saat ini.
Dari segi budaya, pastilah ini yang paling mencengangkan karena apa dilihat dari segi budaya setiap Negara memiliki budaya yang berbeda maka banyak orang yang salah untuk mengikuti budaya tersebut dan diaplikasikan ditempat yang salah. Jika satu budaya dengan budaya lain yang saling bertolak belakang maka akan terjadi pertempuran antar budaya yang bisa mengakibatkan salah satu budaya akan mengecil dan bahkan akan menghilang, karena pengaruh dari budaya yang lebih kuat. Sebagian besar anak-anak yang menganggap mereka itu anak gaul pasti mengikuti budaya kebaratan yang sudah mempengaruhi Negara ini, dari hal yang sebelumnya disini tidak pernah ada dan sekarang sudah menyebar luas seantero negeri ini. Banyak anak gaul yang kurang pengertian dan pengawasan tentang hal kebudayaan maka mereka banyak yang terjerumus kedalam jurang kegaulan, banyak mereka yang suka menggaui atau digauli hanya untuk mendapatkan sesuatu yang mereka pikir itu hal yang wajar dan gaul, tapi bertolak belakang degan budaya negeri ini.
Seharusnya anak yang gaul itu adalah anak yang mengedepankan pengembangan teknologi dan ilmu pengetahuan karena mereka lebih bisa berpikir kedepan dan berpikir esok bukan sekarang ini yang mereka miliki sekarang. Mementingkan inovasi dan kreatifitasan seseorang, bukan menikmati hasil inovasi dan kreatifitasan orang lain. Anak yang gaul itu bisa harusnya bisa menjaga diri dari godaan hal-hal yang bisa merugikan mereka atau bisa merusak masa depan mereka. Anak gaul itu harus berfikir jernih dan sehat dan bisa menyaring hal-hal buruk.

ANAK CUPU
Cupu kata yang menurut orang-orang adalah hal yang menjijikkan atau hal yang kurang enak didengar jika mereka menyandang sebutan tersebut. Dari teman atau pun keluarga jika ada yang menyandang sebutan itu dianggap anak yang kuno, ketiggalan jaman / tidak gaul kampungan dan apapun itu saya tidak tahu lagi. Sebagian orang menganggap anak yang cupu itu dan keluarga yang kurang mampu atau anak yang tinggal di desa yang kurang akan ilmu pengetahuan dan teknologi dan bahkan kegaulannya kurang, bisa disebut gaptek.
Cupu karena kurang informasi ilmu pengetahuan dan teknologi, itulah hal yang kurang benar, di jaman super canggih sekarang ini semua bisa menikmati teknologi dengan berbagai cara, bukan hanya yang di kota saja tapi sekarang yang di hutan pun sama yang saya alami sekarang ini pun bisa menikmati teknologi dan bisa melihat dunia luar dengan mudah dan tidak ribet. Memang ada keterbatasan kita untuk salah teknologi tapi tidak untuk dibidang ilmu pengetahuan. Banyak dari kita anak desa yang dianggap mereka anak yang cupu dan kurang gaul bisa menjadi juara olimpiade tingkat nasional atau pun tingkat internasional. Banyak juga anak-anak kota yang menganggap dirinya gaul tapi tidak mengetahui tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Tidak sedikit pula anak-anak desa yang kurang mengerti dan kurang mengerti perkembangan jaman mungkin karena factor keuangan atau pun factor formal dari keluarga, yang mengakibatkan kurangnya kemampuan mereka untuk menerima dunia luar atau iptek yang masuk karena mereka sudah berpikir dengan hidup begini sudah cukup dan kurangnya kesadaran tentang petingnya dunia luar dan iptek tersebut.
Dari segi kegaulan, menurut saya anak cupu itu bukannya tidak gaul, tapi lebih bisa menjaga diri dan menahan untuk tidak dapat dipengaruhi oleh budaya barat yang lebih mementingkan kehidupan pribad dari pada kehidupan social. Terkadang anak cupu itu juga terkenal karena kepintarannya, jadi mereka bisa menjaga diri. Jadi buka hanya anak gaul yang mempunyai pemikiran kedepan tapi anak cupu pun juga berpikiran kedepan. Itu dibuktikan dengan banyaknya teknologi yang mereka buat untuk membangun desa mereka agar menjadi lebih nyaman tau makmur.
Tidak sedikit pula anak-anak desa yang dulunya mereka cupu sekarang mulai berubah karena terpengaruh oleh dunia barat yang mudah memepengaruhi seseorang untuk merubah diri dan penampilan mereka, banyak dari mereka yang terjerumus kedalam jurang kegaulan.

Perbedaan yang mencolok dari perbedaan antara gaul ‘yang salah’ dan cupu yaitu, mereka menganggap anak gaul ‘yang salah’ adalah orang yang maju dengan menampilkan sesuatu yang lagi trend sekarang, tapi sering melupakan tentang kreatifitas dan inovasi seperti pengertian gaul yang sebetulnya. Mereka tidak tau ada juga pemikiran anak-anak yang cupu yang lebih maju dibanding mereka yang salah gaul.

Kegaulan seseorang bukan dilihat dari cara berpakaian seseorang yang kekinian, bukan dari berbagai canggihnya gadgetnya, bukan dari kekampungannya dia, buka dari dimana dia bertempat tinggal, tapi seberapa dia bisa memotivasi diri untuk menjadi hal yang lebih baik dari hari sekarang.

Kolong Jembatan dan Kolong Merat

                                        (Tema: Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat)

Dalam kehidupan ini ada yang namanya perbedaan yang saling berbanding terbalik. Itu semua mengacu pada kebaikan/keburukan. Tapi tidak selalu berbanding terbalik ada juga yang mengacu pada keburukan/keburukan dan kebaikan/kebaikan. Bisa dikatakan beda tapi sama.
Dalam kehidupan suatu masyarakat pasti ada suatu perbedaan. Perbedaan yang banyak dan sulit untuk kita terjemahkan. Perbedaan yang mencolok atau pun perbedaan yang tidak kita sadari. Perbedaan dari jenis apapun, mungkin ras/suku, agama/kepercayaan, politik, keluarga, jenjang social dan mungkin sampai ke hal kekayaan.
Kejadian seperti ini banyak kita jumpai di semua tempat di desa atau di perkotaan. Mungkin perbedaan mencolok yaitu antara desa dan perkotaan diantaranya adalah jenjang social dan kekayaan dan masih banyak lagi perbandingan yang ada.
Hal yang paling mencolok yaitu tentang kekayaan tau harta benda yang mereka miliki saat ini. Banyak ditemukan di perkotaan yang besar terdapat perbedaan yang mencolok antar orang kaya dan orang miskin. Begitu nyata dan begitu mudah kita liat mungkin saja kita liat setiap waktu.
Terkadang orang miskin yang berada di sebuah kota besar sebagian ada yang hidup di kolong jembatan. Mungkin itu hal yang membuat sebagian kita merasa risih dengan orang kolong jembatan dan ada juga yang merasa iba melihat mereka yang hidup dibawah kolong jembatan. Tetapi berbanding terbalik dengan para kolong merat yang hidup dengan penuh kemewahan dan berada di gedung-gedung tinggi di kota. Mereka hidup dengan uang atau harta benda yang mereka miliki karena jerih payah mereka bekerja keras unutk memenuhi kebutuhan mereka.
Perbedaan yang mencolok tersebut membuat terjadinya kesenjangan social dan pelapisan masyarakat sesuai dengan kasta atau harta yang mereka miliki. Orang dengan kasta rendah atau orang kolong jembatan dianggap sebagai penyakit bagi sebagian orang karena menyusahkan orang yang beranggapan begitu, tapi ada yang beranggapan orang kolong jembatan itu orang yang kurang beruntung mengadu nasib di kota besar dan harus kita tolong. Untuk orang kolong merat yang sudah berkehidupan lebih dari cukup dan bertempat tinggal di gedung-gedung bertingkat mereka merasa bebas hidup di kota dan bisa mengikuti trend jaman sekarang. Ada yang beranggapan tidak semua kolong merat mempunyai harta yang halal sebagian orang beranggapan kalau mereka bermain dengan uang yang haram. Tapi ada dari bagian kolong merat mereka memang bekerja dengan giat dan mendapatkan hasil yang lebih dari cukup untuk kehidupan mereka.
Perbedaan itu menimbulkan berbagai macam problema. Seperti langit dan bumi, mungkin itu persamaan kata yang bisa menggambarkan antara kolong jembatan dan kolong merat. Mereka hidup saling berdampingan tapi mereka seperti raja dan budak. Kadang mereka meremehkan kasta yang bawah dan ada yang menolong kasta bawah.  Sebetulya mereka bisa hidup berdampingan jika saling membantu dan saling tolong menolong. Tapi sebagian orang beranggapan jika kasta atas selalu menolong kasta bawah maka akan terjadi kebiasaan buruk bagi kasta bawah karena hanya akan menunggu pertolongan dari kasta atas. Kasta atas yang memang sudah punya sifat yang susah pasti akan tidak menolong karena mereka beranggapan harta yang mereka rais itu hasih kerja payah mereka selama ini. Dari hal tersebut akan memicu lg adanya pertentangan social antara kolong jembatan dan kolong merat karena mereka merasa direndahkan dan kolong merat merasa seperti diperas. Maka dari itu harus adanya suatu pembicaraan yang bisa menyelesaikan masalah tersebut. Bukan dengan memberikan secara langsung harta yang mereka miliki untuk diberikan kepada mereka kaum bawah tapi memberikan lapangan pekerjaan bagi mereka yang belum mendapatkan pekerjaan. Memberikan pertolongan secara tidak langsung tersebut maka akan menimbulkan keharmonisan antara kaum kolong jembatan dan kaum kolong merat.
Dalam kehidupan bermasyarakat di sebuah Negara semua yang hidup didalamnya adalah sama tidak ada perbedaan antara satu dengan yang lain, karena mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama.  Kita berhak untuk dilindungi dan berhak untuk berbicara / menyampaikan pendapat secara bebas, dan kewajiban kita mentaati hukum yang ada, dan masih banyak lagi hak dan kewajiban yang harus kita jalani.

Sebetulnya antara orang kolong jembatan dan orang kolong merat mempunyai derajat dan kedudukan yang sama. Dalam agama kedudukan merak adalah sama karena tidak ada perbedaan antara manusia satu dengan manusia yang lain.