(Tema : Prasangka, Diskriminasi, dan Ethosentrisme)
Indonesia merupakan bangsa yang terdiri
dari berbagai macam suku bangsa, suku, bahasa dan agama. Hidup bersama dengan
beragam perbedaan tentunya diperlukan integritas, solidaritas dan sikap saling
menghargai banyaknya perbedaan itu sendiri. Karena tanpa itu semua tentunya
akan mengakibatkan konflik berkepanjangan. Salah satu konflik yang sangat
disayangkan dan memakan banyak korban adalah konflik agama.
Indonesia merupakan negara yang memiliki
banyak agama. Meskipun memiliki keberagaman agama dengan segala aturannya
diharapkan tidak memecah belah kehidupan bermasyarakat. Biasanya pertentangan
agama itu timbul ketika mencampurkan urusan agama dengan hubungan sosial, sikap
diskriminatif terhadap yang berbeda agama, atau mencecar historical agama lain
dengan pertanyaan kenapa ?? atau kok bisa ??.Hal tersebut bukan lah sesuatu yang
pantas di perdebatkan. Karena semua agama memiliki keyakinan dan filosofi
masing masing yang tidak perlu di pertanyakan. Diskriminasi akan mengakibatkan
keengganan dan sifat sensitif terhadap kelompok yang memiliki perbedaan dengan
kelompoknya, dampak berkepanjangannya jelas cekcok dan berujung pertikaian
antar kelompok .
Prasangka
menunjukkan pada aspek sikap sedangkan diskriminasi pada tindakan. Menurut Morgan
(1966) sikap adalah kecenderungan untuk merespon baik secara positif atau
negatif terhadap orang, obyek atau situasi. Sikap seseorang baru diketahui
setelah ia bertindak atau bertingkah laku. Oleh karena itu bisa saja bahwa sikap
bertentangan dengan tingkah laku atau tindakan. Jadi prasangka merupakan
kecenderungan yang tidak nampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan,
aksi yang sifatnya realistis. Dengan demikian diskriminatif merupakan tindakan
yang realistis, sedangkan prasangka tidak realistis dan hanya diketahui oleh
diri individu masing-masing.
Sebab-sebab
timbulnya prasangka dan diskriminasi :
1. berlatar
belakang sejarah
2. dilatar-belakangi
oleh perkembangan sosio-kultural dan situasional
3. bersumber dari
factor kepribadian
4. berlatar belakang perbedaan keyakinan, kepercayaan dan agama
Meski Indonesia telah 68 tahun merdeka
dan era reformasi telah terlewati tetapi tetap saja masih ada kasus-kasus
diskriminasi terjadi. Diskirminasi atau kekerasan yang terjadi dilatarbelakangi
oleh beberapa hal seperti agama, suku atau ras, gender, tingkat sosial dalam
masyarakat, dan lain-lain.
Dari banyaknya kasus diskriminasi yang
terjadi, disikriminasi yang paling sering terjadi yaitu dengan latar belakang
agama seperti kasus diskriminasi di Ambon, Maluku. Konflik Maluku menjadi kasus
diskriminasi yang berlatar belakang agama dengan korban meninggal 8.000 sampai
9000 orang. 29.00 rumah, 45 masjid, 47 gereja, 719 toko, 38
gedung kebakaran. Kasus ini berlangsung selama 4 tahun berturut-turut.
Contoh membuncahnya konflik agama di
indonesia, pertikaian agama di Maluku, kasus antar Syiah-Sunni di Sampang yang
bermula dari persoalan keluarga, masalah izin tempat beribadah di GKI Yasmin
dan HKBP Filadelfia, hingga persoalan sweeping yang dilakukan sejumlah
organisasi massa. Kerugian yang ditimbulkan pertikaian ini pun tidak sedikit,
baik secara materiil , spiritual dan bahkan korban jiwa.
Dari konflik dan permasalahan yang telah
terjadi seharusnya masyarakat sadar dan dapat mengambil pelajaran bahwa sikap
diskriminasi akan mengakibatkan pertikaian yang membawa sengsara untuk banyak
pihak. Sikap saling menghormati dan toleransi sangat penting untuk menghindari
bencana.
Indonesia merupakan bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, suku, bahasa dan agama. Hidup bersama dengan beragam perbedaan tentunya diperlukan integritas, solidaritas dan sikap saling menghargai banyaknya perbedaan itu sendiri. Karena tanpa itu semua tentunya akan mengakibatkan konflik berkepanjangan. Salah satu konflik yang sangat disayangkan dan memakan banyak korban adalah konflik agama.