Jumat, 28 Juni 2013

Ikhlas dalam Menerima itu..


Bermain bolawati kemarin di puncak. ketika saya harus melempar bola ditangan kanan ke teman di sebelah kanan dan dalam waktu yang sama tangan kiri saya harus menerima lemparan bola dari teman di sebelah kiri saya, apa yang ahrus saya lakukan? keadaan riuh, konsentrasi kacau. saya fokus kemana? ke tangan kiri untuk menerima ataukah ke tangan kanan untuk memberi? karena saya tidak mungkin fokus pada keduanya. 
setelah beberapa kali mencoba, gagal, mencoba, gagal, mencoba, akhirnya saya bisa. saya putuskan untuk fokus pada tangan kiri saya. Yaitu menerima lemparan bola teman saya. ketika saya memberikan bola ke teman di sebelah kanan, meskipun saya lempar asal saja, pasti dia akan berusaha untuk menangkapnya. 
apa esensinya? esensinya adalah ikhlaslah dalam menerima. Ini yang sering terlupa. kejarlah apa yang jadi rizki kita meski kadang yang memberi itu melemparnya jauh jauh atau melempar terlalu tinggi. Fokus pada diri sendiri dalam menerima.jangan menyalahkan orang lain yang memberi. 
Jika pikiran sdh mendahului hati, maka kita akan kehilangan nilai kehidupan. Salah satu nilai yg mudah hilang adalah mengucapkan terima kasih. 
Keikhlasan merupakan poros semua amalan dan ibadah, termasuk dalam berdoa.  Doa orang yang ikhlas, akan lebih didengar dan diperhatikan oleh Allah. Allah Subhanahu wa ta’alla berfirman,
ادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“ Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Ghafir : 14).

Tanda-Tanda Narsisme di Facebook


Apakah Anda memiliki ribuan teman di Facebook dan sering mengupdate status? Jika iya, Anda kemungkinan seorang yang narsis. Demikian hasil penelitian menunjukkan.
Sebuah studi yang dilakukan para peneliti dari Western Illinois University menunjukkan hubungan antara jumlah teman di Facebook dan seberapa aktif Anda di situs jejaring tersebut dengan narsistik. Penelitian ini melibatkan 294 partisipan berusia 18 hingga 65 tahun, di mana mereka diminta untuk mengisi kuesioner penilaian Narcissistic Personality Inventory (NPI).
Mereka yang punya banyak teman Facebook, sering men-tag foto diri sendiri dan mengupdate status sepanjang hari dikategorikan cenderung memiliki sifat narsis.
Adapun perilaku dan tingkat narsistik ini diukur dengan dua penilaian. Yang pertama disebut Grandiose Exhibitionism (GE), yaitu daya serap terhadap daya tarik diri, kesombongan, keunggulan dan kecenderungan perilaku ekshibisionis. Yang kedua adalah penilaian yang melibatkan Entitlement/Exploitativeness (EE), yaitu perasaan merasa layak dihormati dan keinginan memanipulasi dan mengambil keuntungan dari orang lain.
Hasilnya, semakin tinggi skor GE dan EE seseorang maka akan semakin banyak pula jumlah teman Facebook mereka. Penelitian ini juga diterbitkan dalam jurnal Personality and Individual Differences.
Menurut peneliti Chris Carpenter dari Western Illinois University, Facebook memberikan kecenderungan narsis dan ruang untuk mendapatkan umpan balik yang dibutuhkan dan menjadi pusat perhatian.

Lebih lanjut, Carpenter juga mengatakan tidak ada dasar penilaian apakah seseorang yang memiliki banyak teman Facebook atau seberapa sering mereka mengupdate status bisa dikategorikan memiliki karakteristik narsistik. Namun yang menarik adalah seberapa sering orang-orang ini menggunakan kata seperti ‘saya’ dan ‘aku’ di situs tersebut.
Penelitian tentang narsistik ini bukanlah yang pertama kalinya. Pada tahun 2010, sebuah penelitian yang diterbitkan York University menyoroti perbedaan antara bagaimana pria dan wanita mempromosikan diri mereka sendiri di Facebook. Pria cenderung mempromosikan diri dalam deskripsi “About Me”, sedangkan wanita menggunakan foto-foto yang menunjukkan eksistensi dan penampilan mereka.
Bagaimana pendapat Anda?

Sumber: Times of India & Mashable