Kamis, 08 Oktober 2015

"Kirab Kebo Bule"

                                (Tema: Penduduk Masyarakat dan Kebudayaan)

           Sisa peninggalan sejarah masa lalu yang masih dapat di kunjungi sebagai tempat wisata seperti situs, pusaka dan berbagai benda dapat kita jumpai diberbagai daerah. Peninggalan tersebut memiliki cerita masing-masing dengan ciri keunikan yang kadang menimbulkan berbagai pertanyaan yang sampai saat ini belum dapat diselesaikan. Salah satu wilayah di pulau Jawa, yaitu Surakarta memiliki peninggalan sejarah kepemimpinan berupa Keraton Kasunanan Surakarta. Kasunanan Surakarta meruakan salah satu hasil pemisahan dari Kerajaan Mataram Islam. Sampai saat ini di Kerajaan Kasunanan Surakarta ini masih berdiri dan memiliki raja yang berkuasa. Berbeda dengan Kasultanan Yogyakarta yang diberi keistimewaan untuk menmerintah Provinsi Yogyakarta, Kasunanan Surakarta tidak memiliki keistimewaan itu. Setiap kerajaan memiliki pusaka peninggalan dari sang pemimpin. Pusaka menurut konsep Karaton Surakarta berbeda dengan konsep di luar Karaton. Menurut Karaton Pusaka berarti peninggalan para leluhur Ratu Jawi Karaton Surakarta yang diturunkan dari Ratu ke Ratu  yang memerintah Karaton atau Ingkang Jumeneng Nata. Sedangkan pusaka menurut konsep di luar karaton pusaka diartikan sebagai senjata. Konsep pusaka tersebut termasuk wangkingan (keris), tombak, pedang, wayang, tarian, kereta dan sebagainya. Pusaka yang dianggap peninggalan tersebut memiliki makna historis, memiliki makna magis, sehingga memiliki pengaruh atau prabawa. Pusaka yang memiliki prabawa tinggi dianggap sebagai pepundhen untuk dihormati.  Kraton Surakarta memiliki satu pusaka yang unik yang sekarang menjadi budaya lokal dan dianggap sakral. 

Budaya sakral yang masih dilakukan di keraton Surakarta adalah berupa penyelenggaraaan kirab kebo bule kyai slamet. Kirab budaya ini dilakukan setiap memasuki bulan Muharram atau tahun baru islam atau biasa disebut oleh orang solo dengan sebutan malam satu suro.  Kebo Bule yang ada di Kasunanan Surakarta ini merupakan hewan yang dikeramatkan pihak keraton. Kebo bule merupakan jenis Kerbau albino, sehingga dari penampakannya berbeda dengan kerbau kebanyakan. Karena albino, warna kerbau ini cenderung putih. Menurut pihak Keraton Kasunanan, Kebo Kyai Slamet sendiri sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Kebo bule yang sekarang masih ada ini adalah keturunan dari Kebo Bule Kyai Slamet.

 Kebo bule sendiri berasal dari pemerintahan Paku Buwono II pada abad ke 17, saat kerajaan mataram masih di keraton Surakarta. Diceritakan bahwa kerajaan pada saat itu terjadi pemberontakan dipimpin oleh raja dari Madura dan colonial Belanda sehinggga Paku Buwono II melarikan diri sampai Ponorogo. Masa pelarian di Ponorogo sang Paku Buwono mendapat wangsit (petunjuk ghaib) bahwa kyai slamet harus di rekso (dijaga) oleh sepasang kebo bule (albino) jika kerajaannya ingin aman, tentram dan langgeng. Berkat Tuhan Yang Maha Agung, tiba-tiba Bupati Ponorogo membuktikan bhaktinya pada sang raja dengan mempersembahkan sepasang kebo bule. Pakubuwono pun sangat berterimakasih atas persembahan dari sang bupati. Akhirnya kebo bule pun dibawa ke Surakarta dan membangaun istana baru bernama Surakarta Hadiningrat.
               
Kebo bule dianggap begitu sakral oleh berbagai orang. Seperti dipercaya memiliki kesaktian yaitu pada masa kepemimpinan Sultan Agung, sebuah tempat di Surakarta pernah megalami kebakaran yang hebat. Saking besarnya kebakaran tersebut, api sampai hampir mencapai kawasan Keraton. Karena kebakaran semakin besar, akhirnya seorang Demang menghadap Sultan Agung. Demang tersebut mengatakan semua bagian dari daerah tersebut telah terbakar kecuali sebuah kandang kerbau. Kandang kerbau tersebut tampak aman-aman saja meski bangunan di sekitarnya telah habis dilalap si jago merah.



Sultan memerintahkan beberapa orang untuk memeriksa kandang tersebut. Setelah diperiksa, di dalam kandang tersebut terdapat seekor kebo bule dan sebilah tombak. Sultan Agung memerintahkan agar si kerbau diarak keliling lokasi kebakaran, bersama dengan tombak tersebut. Akhirnya, setelah si kerbau berkeliling, api padam begitu saja dan menyisakan asap membumbung. Sejak itu, tombak dan kerbau tersebut dipelihara oleh Keraton dan diberi nama Tombak Kyai Selamat dan Kebo Kyai Selamet. Sementara si pemilik kerbau tersebut diangkat menjadi punggawa keraton dan diberi pangkat Ki Lurah Maesaprawira.
Kebo bue dianggap membawa rezeki bagi masyarakat Surakarta. Di pintu gerbang Keraton Surakarta, tepatnya di sebelah selatan, terdapat sebuah pasar tradisional bernama Pasar Gading. Namun, saat ini pasar tersebut telah dipindah ke daerah Glembegan. Ketika pasar tersebut belum dipindah, sang Kebo Bule dikabarkan sering berkeliaran di pasar tersebut.

Namun anehnya, meski berkeliaran di pasar, Kebo Kyai Slamet tidak pernah menganggu atau memakan dagangan warga, meski sayur dan buah banyak bertebaran di sana. Ketika lapar, dia hanya memakan singkong rebus atau pisang goreng. Namun, para pedagang di sana justru berlomba-lomba memberi makan si kebo karena menurut pengakuan mereka, dagangan yang dimakan oleh si kerbau tersebut biasanya akan cepat habis dalam waktu satu atau dua jam saja.


Kebo Kyai Slamet memang sangat disakralkan oleh masyarakat dan orang-orang Keraton Solo. Setiap tahunnya, dilakukan Kirab Kyai Slamet. Kirab ini dilakukan dengan cara mengarak si kerbau keluar dari kandangnya dan juga diperingati dengan membisu atau menginstropeksi diri juga berdoa.
Biaya Kirab ini memakan jumlah uang yang cukup fantastis hingga 200 juta rupiah. Pemerintah Provinsi membantu memberikan biaya sekitar 40 juta sementara sisanya akan diperoleh dari sumbangan kerabat Keraton. Seluruh rakyat Solo menyambut meriah Kirab ini, meski dari tahun ke tahun peminatnya sudah berkurang.
Pada masa Pemerintahan Pakubuwono VII dan Pakubuwono VII, Keraton Solo mengalami kemunduran. Pada masa-masa itu banyak ritual budaya yang harusnya dilaksanakan, tidak jadi dilaksanakan karena adanya kekurangan dana. Masalah finansial tersebutpun membuat ditiadaannya Kirab Kyai Slamet.



Kirab tersebut kemudian diadakan kembali di masa pemerintahan Pakubuwono IX ketika masa Orde baru mulai berkuasa. Dan hingga kini Kirab Kyai Slamet masih terus dilaksanakan.

Hingga saat ini Kebo Kyai Slamet masih terus dihormati oleh keluarga Keraton dan Masyarakat sekitar. Tidak ada yang berani melarang atau mengusir jika kerbau ini masuk atau bahkan memakan sebuah tanaman atau bahkan dagangan. Dan jika kerbau itu membuang hajat saat dikirab, maka warga akan memperebutkan kotorannya.




Meski begitu, kepercayaan terhadap kesaktian dan kesakralan kerbau dikembalikan pada pribadi masing-masing. Sesungguhnya segala kekuatan, kesaktian, rezeki dan keselamatan hanyalah milik Tuhan yang Maha Esa.




Daftar Pustaka

HLH."5 Misteri Tentang Kebo Bule di Surakarta". 9 Oktober 2015. http://log.viva.co.id
"Pusaka". 9 Oktober 2015. http://www.karatonsurakarta.com
"Mataram". 9 Oktober 2015. http://www.karatonsurakarta.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar