(Tema: Penduduk Masyarakat dan Kebudayaan)
Sisa peninggalan sejarah masa lalu yang masih dapat di kunjungi sebagai tempat wisata seperti situs, pusaka dan berbagai benda dapat kita jumpai diberbagai daerah. Peninggalan tersebut memiliki cerita masing-masing dengan ciri keunikan yang kadang menimbulkan berbagai pertanyaan yang sampai saat ini belum dapat diselesaikan. Salah satu wilayah di pulau Jawa, yaitu Surakarta memiliki peninggalan sejarah kepemimpinan berupa Keraton Kasunanan Surakarta. Kasunanan Surakarta meruakan salah satu hasil pemisahan dari Kerajaan Mataram Islam. Sampai saat ini di Kerajaan Kasunanan Surakarta ini masih berdiri dan memiliki raja yang berkuasa. Berbeda dengan Kasultanan Yogyakarta yang diberi keistimewaan untuk menmerintah Provinsi Yogyakarta, Kasunanan Surakarta tidak memiliki keistimewaan itu. Setiap kerajaan memiliki pusaka peninggalan dari sang pemimpin. Pusaka menurut konsep Karaton Surakarta berbeda dengan konsep di luar Karaton. Menurut Karaton Pusaka berarti peninggalan para leluhur Ratu Jawi Karaton Surakarta yang diturunkan dari Ratu ke Ratu yang memerintah Karaton atau Ingkang Jumeneng Nata. Sedangkan pusaka menurut konsep di luar karaton pusaka diartikan sebagai senjata. Konsep pusaka tersebut termasuk wangkingan (keris), tombak, pedang, wayang, tarian, kereta dan sebagainya. Pusaka yang dianggap peninggalan tersebut memiliki makna historis, memiliki makna magis, sehingga memiliki pengaruh atau prabawa. Pusaka yang memiliki prabawa tinggi dianggap sebagai pepundhen untuk dihormati. Kraton Surakarta memiliki satu pusaka
yang unik yang sekarang menjadi budaya lokal dan dianggap sakral.
Sisa peninggalan sejarah masa lalu yang masih dapat di kunjungi sebagai tempat wisata seperti situs, pusaka dan berbagai benda dapat kita jumpai diberbagai daerah. Peninggalan tersebut memiliki cerita masing-masing dengan ciri keunikan yang kadang menimbulkan berbagai pertanyaan yang sampai saat ini belum dapat diselesaikan. Salah satu wilayah di pulau Jawa, yaitu Surakarta memiliki peninggalan sejarah kepemimpinan berupa Keraton Kasunanan Surakarta. Kasunanan Surakarta meruakan salah satu hasil pemisahan dari Kerajaan Mataram Islam. Sampai saat ini di Kerajaan Kasunanan Surakarta ini masih berdiri dan memiliki raja yang berkuasa. Berbeda dengan Kasultanan Yogyakarta yang diberi keistimewaan untuk menmerintah Provinsi Yogyakarta, Kasunanan Surakarta tidak memiliki keistimewaan itu. Setiap kerajaan memiliki pusaka peninggalan dari sang pemimpin. Pusaka menurut konsep Karaton Surakarta berbeda dengan konsep di luar Karaton. Menurut Karaton Pusaka berarti peninggalan para leluhur Ratu Jawi Karaton Surakarta yang diturunkan dari Ratu ke Ratu yang memerintah Karaton atau Ingkang Jumeneng Nata. Sedangkan pusaka menurut konsep di luar karaton pusaka diartikan sebagai senjata. Konsep pusaka tersebut termasuk wangkingan (keris), tombak, pedang, wayang, tarian, kereta dan sebagainya. Pusaka yang dianggap peninggalan tersebut memiliki makna historis, memiliki makna magis, sehingga memiliki pengaruh atau prabawa. Pusaka yang memiliki prabawa tinggi dianggap sebagai pepundhen untuk dihormati.
Budaya sakral yang masih
dilakukan di keraton Surakarta adalah berupa penyelenggaraaan kirab kebo bule
kyai slamet. Kirab budaya ini dilakukan setiap memasuki bulan Muharram atau
tahun baru islam atau biasa disebut oleh orang solo dengan sebutan malam satu
suro. Kebo Bule yang ada di
Kasunanan Surakarta ini merupakan hewan yang dikeramatkan pihak keraton. Kebo
bule merupakan jenis Kerbau albino, sehingga dari penampakannya berbeda dengan
kerbau kebanyakan. Karena albino, warna kerbau ini cenderung putih. Menurut pihak
Keraton Kasunanan, Kebo Kyai Slamet sendiri sudah meninggal beberapa tahun yang
lalu. Kebo bule yang sekarang masih ada ini adalah keturunan dari Kebo Bule
Kyai Slamet.
Kebo bule sendiri berasal
dari pemerintahan Paku Buwono II pada abad ke 17, saat kerajaan mataram masih
di keraton Surakarta. Diceritakan bahwa kerajaan pada saat itu terjadi
pemberontakan dipimpin oleh raja dari Madura dan colonial Belanda sehinggga
Paku Buwono II melarikan diri sampai Ponorogo. Masa pelarian di Ponorogo sang
Paku Buwono mendapat wangsit (petunjuk ghaib) bahwa kyai slamet harus di rekso
(dijaga) oleh sepasang kebo bule (albino) jika kerajaannya ingin aman, tentram
dan langgeng. Berkat Tuhan Yang Maha Agung, tiba-tiba Bupati Ponorogo
membuktikan bhaktinya pada sang raja dengan mempersembahkan sepasang kebo bule.
Pakubuwono pun sangat berterimakasih atas persembahan dari sang bupati. Akhirnya
kebo bule pun dibawa ke Surakarta dan membangaun istana baru bernama Surakarta
Hadiningrat.
Kebo bule dianggap begitu sakral oleh berbagai orang.
Seperti dipercaya memiliki kesaktian yaitu pada masa kepemimpinan Sultan Agung,
sebuah tempat di Surakarta pernah megalami kebakaran yang hebat. Saking
besarnya kebakaran tersebut, api sampai hampir mencapai kawasan Keraton. Karena
kebakaran semakin besar, akhirnya seorang Demang menghadap Sultan Agung. Demang
tersebut mengatakan semua bagian dari daerah tersebut telah terbakar kecuali
sebuah kandang kerbau. Kandang kerbau tersebut tampak aman-aman saja meski
bangunan di sekitarnya telah habis dilalap si jago merah.
Sultan
memerintahkan beberapa orang untuk memeriksa kandang tersebut. Setelah
diperiksa, di dalam kandang tersebut terdapat seekor kebo bule dan sebilah
tombak. Sultan Agung memerintahkan agar si kerbau diarak keliling lokasi
kebakaran, bersama dengan tombak tersebut. Akhirnya, setelah si kerbau
berkeliling, api padam begitu saja dan menyisakan asap membumbung. Sejak itu,
tombak dan kerbau tersebut dipelihara oleh Keraton dan diberi nama Tombak Kyai
Selamat dan Kebo Kyai Selamet. Sementara si pemilik kerbau tersebut diangkat
menjadi punggawa keraton dan diberi pangkat Ki Lurah Maesaprawira.
Kebo bue dianggap membawa rezeki bagi
masyarakat Surakarta. Di pintu gerbang Keraton Surakarta, tepatnya di sebelah
selatan, terdapat sebuah pasar tradisional bernama Pasar Gading. Namun, saat
ini pasar tersebut telah dipindah ke daerah Glembegan. Ketika pasar tersebut
belum dipindah, sang Kebo Bule dikabarkan sering berkeliaran di pasar tersebut.
Namun anehnya, meski berkeliaran di pasar, Kebo Kyai Slamet
tidak pernah menganggu atau memakan dagangan warga, meski sayur dan buah banyak
bertebaran di sana. Ketika lapar, dia hanya memakan singkong rebus atau pisang
goreng. Namun, para pedagang di sana justru berlomba-lomba memberi makan si
kebo karena menurut pengakuan mereka, dagangan yang dimakan oleh si kerbau
tersebut biasanya akan cepat habis dalam waktu satu atau dua jam saja.
Kebo Kyai
Slamet memang sangat disakralkan oleh masyarakat dan orang-orang Keraton Solo.
Setiap tahunnya, dilakukan Kirab Kyai Slamet. Kirab ini dilakukan dengan cara
mengarak si kerbau keluar dari kandangnya dan juga diperingati dengan membisu
atau menginstropeksi diri juga berdoa.
Biaya Kirab ini memakan jumlah uang yang cukup fantastis
hingga 200 juta rupiah. Pemerintah Provinsi membantu memberikan biaya sekitar
40 juta sementara sisanya akan diperoleh dari sumbangan kerabat Keraton.
Seluruh rakyat Solo menyambut meriah Kirab ini, meski dari tahun ke tahun peminatnya sudah berkurang.
Pada masa
Pemerintahan Pakubuwono VII dan Pakubuwono VII, Keraton Solo mengalami
kemunduran. Pada masa-masa itu banyak ritual budaya yang harusnya dilaksanakan,
tidak jadi dilaksanakan karena adanya kekurangan dana. Masalah finansial
tersebutpun membuat ditiadaannya Kirab Kyai Slamet.
Kirab tersebut kemudian diadakan kembali di masa
pemerintahan Pakubuwono IX ketika masa Orde baru mulai berkuasa. Dan hingga
kini Kirab Kyai Slamet masih terus dilaksanakan.
Hingga saat ini Kebo Kyai Slamet masih terus dihormati oleh
keluarga Keraton dan Masyarakat sekitar. Tidak ada yang berani melarang atau
mengusir jika kerbau ini masuk atau bahkan memakan sebuah tanaman atau bahkan
dagangan. Dan jika kerbau itu membuang hajat saat dikirab, maka warga akan
memperebutkan kotorannya.
Meski begitu, kepercayaan terhadap kesaktian dan kesakralan
kerbau dikembalikan pada pribadi masing-masing. Sesungguhnya segala kekuatan,
kesaktian, rezeki dan keselamatan hanyalah milik Tuhan yang Maha Esa.
Daftar Pustaka
HLH."5 Misteri Tentang Kebo Bule di Surakarta". 9 Oktober 2015. http://log.viva.co.id
"Pusaka". 9 Oktober 2015. http://www.karatonsurakarta.com
"Mataram". 9 Oktober 2015. http://www.karatonsurakarta.com




Tidak ada komentar:
Posting Komentar